Jumat, 28 Januari 2011
Red Alert untuk porsi berita yg lebay....
"Berita itu penting nak, daripada nonton gambar (a.k.a kartun) atw orang-orang pecicilan gak karuan (a.ka konser musik) mending nonton berita bisa tau macem-macem". Itu tadi adalah sepenggal statemen dari bapak saya tercinta semasa saya kanak-kanak dulu. Statemen seperti itu bisa terlontar dari bapak saya karena bapak trenyuh melihat saya yang kebanyakan berlama-lama di depan televisi menonton acara-acara yang dianggap kurang penting baginya.
Sekarang setelah beranjak dewasa sedikit, saya mencoba menerapkan petuah dari bapak untuk banyak-banyak menonton berita di televisi. Yang saya rasakan adalah "wah benar berita itu memang bisa bikin tau macem-macem tapi kok sepertinya sekarang porsinya berlebihan ya malah bikin jenuh". Menurut pemikiran saya penyebabnya karena persaingan yang ketat antar stasiun tv.
Dengan menjamurnya stasiun televisi di republik INA ini, persaingan antar stasiun tv jadi semakin ketat. Tolok ukur persaingannya adalah rating dari pemirsa. Nah dari rating itu masuk sejumlah iklan yang menghidupi si stasiun tv. Semakin bagus ratingnya maka semakin banyak iklan masuk yang membuat kantong stasiun tv makin gemuk. Semua acara di stasiun tv berpatokan dari rating itu tak terkecuali acara berita.
Acara berita yang ada sekarang memang cukup cepat arus informasinya. Kejadian-kejadian yang diberitakan selalu hasil update pemberitaan yang paling cepat yang membuat semua stasiun tv berlomba-lomba memberitakan sesuatu secara cepat dengan waktu yang hampir bersamaan untuk meraih jumlah pemirsa sebanyak-banyaknya untuk rating yang tinggi. Alhasil berita yang dihasilkan pun bisa dibilang seragam cuma beda kemasan. Durasi yang ditampilkan juga gak tanggung-tanggung dari pagi, siang, sore, malam, tengah malam beritanya selalu berkisar di masalah itu-itu terus.
Misalnya kemarin pas timnas INA di AFF Cup terus yang sekarang lagi hot-hotnya beritanya si Gayus cs. Suguhannya itu-itu juga. Yang saya pikirkan adalah bagaimana ya apa stasiun tv itu gak mikir kalau porsi pemberitaannya sudah berlebihan. Apa mereka gak takut menanamkan gagasan atw pola pikir yang salah untuk masyarakat. Sekarang ini penonton berita bukan cuma bapak-bapak lho. Banyak anak kecil yang ikutan nonton berita padahal mereka gak bgtu tau beritanya itu apa. Jangan sampai mereka bisa punya pikiran kalau koruptor itu adalah orang yang berduit kayak gayus. Terus mereka jadi meniru si gayus supaya jadi orang kaya. Naudzubillah. Stasiun tv mbok dipikirkan mbok ya berita dikemas dalam porsi yang wajar supaya gak mengganggu pola pikir generasi penerus. Jangan sampai arus informasi itu malah menyeret ke jurang kesesatan.
Sekarang setelah beranjak dewasa sedikit, saya mencoba menerapkan petuah dari bapak untuk banyak-banyak menonton berita di televisi. Yang saya rasakan adalah "wah benar berita itu memang bisa bikin tau macem-macem tapi kok sepertinya sekarang porsinya berlebihan ya malah bikin jenuh". Menurut pemikiran saya penyebabnya karena persaingan yang ketat antar stasiun tv.
Dengan menjamurnya stasiun televisi di republik INA ini, persaingan antar stasiun tv jadi semakin ketat. Tolok ukur persaingannya adalah rating dari pemirsa. Nah dari rating itu masuk sejumlah iklan yang menghidupi si stasiun tv. Semakin bagus ratingnya maka semakin banyak iklan masuk yang membuat kantong stasiun tv makin gemuk. Semua acara di stasiun tv berpatokan dari rating itu tak terkecuali acara berita.
Acara berita yang ada sekarang memang cukup cepat arus informasinya. Kejadian-kejadian yang diberitakan selalu hasil update pemberitaan yang paling cepat yang membuat semua stasiun tv berlomba-lomba memberitakan sesuatu secara cepat dengan waktu yang hampir bersamaan untuk meraih jumlah pemirsa sebanyak-banyaknya untuk rating yang tinggi. Alhasil berita yang dihasilkan pun bisa dibilang seragam cuma beda kemasan. Durasi yang ditampilkan juga gak tanggung-tanggung dari pagi, siang, sore, malam, tengah malam beritanya selalu berkisar di masalah itu-itu terus.
Misalnya kemarin pas timnas INA di AFF Cup terus yang sekarang lagi hot-hotnya beritanya si Gayus cs. Suguhannya itu-itu juga. Yang saya pikirkan adalah bagaimana ya apa stasiun tv itu gak mikir kalau porsi pemberitaannya sudah berlebihan. Apa mereka gak takut menanamkan gagasan atw pola pikir yang salah untuk masyarakat. Sekarang ini penonton berita bukan cuma bapak-bapak lho. Banyak anak kecil yang ikutan nonton berita padahal mereka gak bgtu tau beritanya itu apa. Jangan sampai mereka bisa punya pikiran kalau koruptor itu adalah orang yang berduit kayak gayus. Terus mereka jadi meniru si gayus supaya jadi orang kaya. Naudzubillah. Stasiun tv mbok dipikirkan mbok ya berita dikemas dalam porsi yang wajar supaya gak mengganggu pola pikir generasi penerus. Jangan sampai arus informasi itu malah menyeret ke jurang kesesatan.
Rabu, 19 Januari 2011
Carut marut sepakbola Indonesia: LPI vs ISL
Beberapa hari yang lalu sejumlah media di tanah air baik cetak maupun elektronik gencar-gencarnya memberitakan hebohnya 'rivalitas' PSSI dan penyelenggara liga kompetisi sepakbola baru yg namanya LPI (Liga Primer Indonesia). PSSI menuding LPI adalah suatu kompetisi tandingannya ISL yang merupakan liga kompetisi sepakbola yang diasuh oleh kak Seto eh sorry maksudnya PSSI.
PSSI lalu mengklaim bahwa LPI ini merupakan liga ilegal yang tidak punya kekuatan hukum sama sekali atau hanya dianggap sebagai suatu liga tarkam. Surat dari FIFA pun diajukan sebagai bukti untuk menjatuhkan legalitas LPI. Sampai sekarang pun masalah ini belum bisa dijernihkan (kayak minyak goreng aja...he) dan sepertinya memaksa pihak pemrintah lewat Menpora untuk turun tangan dengan statemen-statemen yang berupaya mendamaikan kedua pihak yang berseteru.
Seandainya kedua pihak yang berseteru belum bisa didamaikan, tampaknya jagat persepakbolaan Indonesia bakal menghadapi suatu kondisi yang memprihatinkan (lagi) setelah mengalami euforia piala AFF yang SEDIKIT mengangkat citra persepakbolaan nasional. Rakyat Indonesia sangat berharap pada PSSI agar merombak kepengurusannya yang sepertinya sudah dianggap karatan. Semoga harapan masyarakat Indonesia akan masa depan sepakbola Indonesia yang cerah tidak menguap begitu saja.
NB: DIN, TURUN YA....
PSSI lalu mengklaim bahwa LPI ini merupakan liga ilegal yang tidak punya kekuatan hukum sama sekali atau hanya dianggap sebagai suatu liga tarkam. Surat dari FIFA pun diajukan sebagai bukti untuk menjatuhkan legalitas LPI. Sampai sekarang pun masalah ini belum bisa dijernihkan (kayak minyak goreng aja...he) dan sepertinya memaksa pihak pemrintah lewat Menpora untuk turun tangan dengan statemen-statemen yang berupaya mendamaikan kedua pihak yang berseteru.
Seandainya kedua pihak yang berseteru belum bisa didamaikan, tampaknya jagat persepakbolaan Indonesia bakal menghadapi suatu kondisi yang memprihatinkan (lagi) setelah mengalami euforia piala AFF yang SEDIKIT mengangkat citra persepakbolaan nasional. Rakyat Indonesia sangat berharap pada PSSI agar merombak kepengurusannya yang sepertinya sudah dianggap karatan. Semoga harapan masyarakat Indonesia akan masa depan sepakbola Indonesia yang cerah tidak menguap begitu saja.
NB: DIN, TURUN YA....
New Form
Akhirnya blog baru saya kembali terbentuk setelah melalui suatu proses nilai awal dasar dari konflik ego yang tak berkesudahan (tony blank banget)...haha...semoga bentuk baru ini tidak menjadi beku lagi sperti yang kemarin...
Langganan:
Komentar (Atom)

